Salam
Boleh lah berbagi
Tanda bijak jangan lah sungkan mencari teman
Bila slalu hati berseri
Mari sahabat menata taman
Jumat, 20 Maret 2009
Cerpen
SUATU PAGI
)
Kota yang luar biasa dengan masyarakatnya yang terkenal rajin dan memiliki budaya kerja keras. Kokok ayam yang terdengar adalah lonceng yang membangunkan seluruh penghuni kota. Kokok ayam yang pertama, yang secara rutin terdengar tepat pada pukul tiga dini hari adalah waktu bagi para pemimpin dan eksekutif kantoran bersigap diri.
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini, saat mendengar kokok ayam pertama, tuan Walikota segera beranjak dari kasur empuk. Beliau membasuh muka dan bersegera meneliti ulang materi rapat yang sudah disiapkan di atas meja. Sementara Nyonya Walikota menyiapkan jas kesayangan Pak Wali, menyiapkan sepatu lengkap dengan kaus kaki serta kemudian menata sarapan pagi -lebih tepatnya sarapan dini hari- di atas meja. Selesai mandi semua telah siap.
Hal serupa terjadi juga di rumah-rumah para pimpinan dan ekskutif kantor, baik instansi pemerintah maupun swasta, mereka telah sigap pada kokok pertama dengan kepentingan masing-masing hari ini.
Hari-hari belakangan ini sebenarnya merupakan hari-hari yang berat bagi penduduk Kota Kerja Nyata. Kota Kerja Nyata atau trend disebut dengan tiga huruf KKN adalah kota yang baru berbenah diri. Kota yang baru saja dibentuk dan telah disahkan menteri hasil dari pemekaran kota terdahulu yang merupakan induk muasal.
Kokok ayam yang kedua berbunyi tepat mengiringi lantunan azan subuh yang menggayuti terpaan udara subuh. Kokok yang kedua ini adalah pertanda bagi mereka pekerja biasa. Mereka itu karyawan kantor pada instansi pemerintah maupun swasta.
Di KKN, memang Pak Walikota pada masa awal pengangkatanya meluncurkan program kerja unggulan berupa pemwajiban terhadap dua golongan –Golongan atas dan menengah- untuk mutlak memiliki ayam minimal seekor ayam jantan. Sehingga tak heran pada golongan eksekutif dan karyawan, di rumah mereka dapat dipastikan didapati ayam-ayam beraneka jenis. Anehnya merka akan saling pamer jika memiliki ayam jenis terbaru yang tak dimiliki oleh yang lainnya. Bahkan ada dari mereka yang sanggup mengimpor ayam-ayam dari negeri antah berantah yang berada di ujung peta sekalipun. Sementara yang lainya mencari cara pintas dengan menghasilkan ayam-ayam hasil eksperimen dari kawin silang. Bahkan ada yang nekat mengawinkan ayam dengan jenis unggas lain dan tentunya hasil untuk yang satu ini jelas saja menemui kegagalan. Memang terkesan sebuah kerja yang membabi buta.
Karena makin maraknya perlombaan memelihara ayam dengan berbagai jenis yang aneh-aneh, hal tersebut tentu menimbulkan dampak tersendiri yaitu kebingungan mereka akan suara kokok yang tak satu nada satu dengan lainnya. Nada kokok yang berbeda tersebut memusingkan untuk keseragaman penanda bagi golongan eksekutif atau karyawan biasa. Masalahnya kadangkala kokok ayam milik karyawan sudah ada yang menyamai kualitas suara pholyphoenic telepon selular. Hal tersebut sering menimbulkan kecemburuan dan tanda tanya besar bagi mereka yang belum memiliki kokok dengan kualitas tersebut.
Maka muncullah kebijakan baru Tuan Walikota untuk membentuk badan independen yang bertugas mengaudit muasal dana pengadaan ayam pada masyarakat KKN. Peraturan tersebut disahkan oleh dewan KKN. Namun, dalam praktiknya di lapangan, sering terjadi “main mata” antara tim audit dan pihak tersangka yang sebenarnya sudah jadi rahasia umum masyarakat KKN. Seperti kasus yang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu, Tuan Walikota sangat berang dan merasa mendapat “tamparan” akibat ulah tim audit bentukannya yang “bermain mata” dengan seorang tersangka sehingga oknum auditor tersebut dipecat dengan tidak hormat.
Tidak itu saja permasalahan yang memusingkan Tuan walikota berkenaan dengan program unggulan tersebut, kini di KKN mafia peradilan menjadi suatu penyakit baru yang meresahkan akibat banyaknya kasus-kasus kokok ayam yang bisa diolah menjadi fulus oleh para aparat penjaga hukum. Kalau di negeri lain istilah masyarakat untuk pelaku bidang hukum adalah penegak hukum, di KKN istilah untuk hal serupa adalah penjaga hukum. Dari istilah yang berbeda tersebut maka menimbulkan tafsir yang sedikit longgar yaitu tugas penjaga, ya cuma menjaga. Demikianlah, hukum hanya dijaga siang, malam hingga subuh tanpa ada keharusan untuk menegakkannya. Untuk yang satu ini Tuan Walikota berencana meninjau ulang istilah tersebut.
Belum selesai dengan satu masalah muncul masalah lain lagi. Masyarakat golongan bawah yang merasa dimarginalkan karena tidak dikenai kewajiban memelihara ayam menuntut. Merka meminta untuk diperlakukan setara. Lebih tajam lagi mereka meminta negara memfasilitasi kebutuhan kokok ayam mereka dengan uang kas negara. Dengan harapan kepemilikan ayam gratis dari negara. Hal yang dilema bagi Tuan Walikota, masalahnya tuntutan meraka masuk akal. Warga kelas bawah merasa keterpurukan mereka akibat kurangnya fasilitas kokok ayam yang berjasa membangunkan mereka di pagi hari. Akibat hal tersebut kinerja mereka buruk. Mereka sering bangun terlambat bahkan kesiangan dibanding dua golongan di atas mereka.
“Jika rezeki kami telah didahului ayam, lalu mana lagi bagian kami!” Teriak masyarakat kelas bawah yang berdemonstrasi di halaman gedung dewan tengah hari itu. Anggota dewan yang menerima mereka menjanjikan asfirasi mereka akan disampaikan kepada Tuan Walikota.
Pada saat bertatap muka dengan Walikota, pimpinan dewan Menyampaikan keinginan kelas bawah dengan mengulang persis kalimat demo golongan kelas bawah, “Kalau rejeki kami telah didahului ayam, lalu mana lagi bagian kami!” Pak Wali manggut-manggut dan besoknya keluar headline di koran terkemuka KKN “GAJI ANGGOTA DEWAN KKN NAIK SERATUS PERSEN”.
Masyarakat kelas bawah resah. Mereka merasa dipermainkan. Kantor Walikota dikepung ribuan masa kelas bawah. Mereka hendak menemui Tuan Walikota secara langsung. Perseteruan yang seru terjadi, untunglah belum sempat menimbulkan korban, Tuan Walikota keluar menemui para pendemo.
“Apa keinginan kalian ramai-ramai kemari?” tandas Tuan Walikota.
“Tuan Walikota yang terhormat, kami menanyakan tuntutan kami mengenai fasilitas kokok ayam”, balas salah seorang pimpinan demo.
Walikota mengerenyit sejenak, “fasilitas kokok ayam? Maksud kalian?”
“Kami menuntut penyetaraan peraturan yang berlaku!” tegas pimpinan demo yang lainya menyahuti.
Tuan Walikota semakin bingung, “Baiklah kalian silakan masuk ke ruang rapat saya. Kita bicarakan lebih panjang lebar. Tapi, karena keterbatasan ruang, cukup beberapa orang saja dari wakil kalian yang masuk.”
Rapat berlangsung tenang. Secara bergantian wakil demonstran berbicara dan didengarkan oleh Tuan Walikota. Rapat tersebut selesai, semua demonstran puas. Tuan Waikota bersedia memenuhi tuntutan. Pertama, peraturan kewajiban memelihara ayam diberlakukan pada semua golongan. Kedua, Pengadaan ayam akan ditanggung oleh kas anggaran belanja KKN. Ayam-ayam akan segera diimpor dari negara sahabat dalam tempo kurang dari satu bulan.
Kini ada tiga kali kokok ayam di Kota Kerja Nyata, pertama di waktu dini hari, kedua saat subuh, dan yang terakhir saat menjelang fajar. Kahidupan KKN kembali normal. Semua bergiat dengan bidang kerja masing-masing. Yang terbangun pada dini hari, yang terbangun subuh hari, dan yang terbangun menjelang fajar sudah paham dengan kewajiban masing-masing.
Situasi damai berlangsung cukup lama. Jarang lagi terdengar kasus-kasus baru yang mecuat mengeni tata kehidupan masyarakat KKN. Baru kemudian setelah sekian lama larut dalam kondisi yang stagnan, muncul suara-suara arus kelas bawah yang merasa kembali diperlakukan secara kurang adil. Kini permasalahan jadwal kokok ayam masyarakat kelas bawah yang dirasa perlu ditinjau ulang.
“ Bapak, Ibu sekalian, ayam-ayam kita kebagian jadwal kokok paling akhir, yaitu menjelang fajar menyingsing. Waktu tersebut dirasa terlalu singkat bagi kita untuk mempersiapkan diri memulai aktivitas. Padahal, aktivitas kita tergolong lebih banyak menguras tenaga dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Saya sebagai tokoh masyarakat bawah berkesimpulan ada baiknya kita kembali demo ke Kantor Walikota menuntut perubahan jadwal kokok ayam kita lebih awal dari dua golongan di atas kita. Apakah Bapak, Ibu, Saudara-saudara setuju?” Pertanyaan nyaring tokoh masyarakat mengakhiri paparannya dijawab serentak dengan kata “Setuju!” yang hingar bingar.
Ribuan masyarkat kelas bawah kembali berbondong memadati jalanan KKN, barisan mereka memacetkan lalu-lintas, teriakan-triakan mereka menarik perhatian masyarakat lain sepanjang jalan. Sebagian masyarakat yang bersimpatik ikut arus demonstrasi menuju Kantor Walikota. Berita ribuan masa yang akan memadati Kantor Walikota sudah diketahui Tuan Walikota. Beliau telah paham situasi dan tak ingin kejadian ricuh yang hampir meledak tempo hari terjadi lagi. Di teras kantor, Tuan Walikota sendiri mengalah menunggu kedatangan massa demonstrasi. Massa yang melihat Tuan Walikota yang sudah menunggu mereka, sembari menebar senyum, mengucapkan salam kepadanya.
“Assalammualaikum Pak Wali! Merdeka” teriak massa kompak.
Tuan Walikota menjawab salam tak lupa beriring senyum yang menyejukkan hati massa, “Ada apa lagi kalian berbondong-bondong kemari?”
“Pak Wali, kami merepotkan lagi, “ ujar tokoh masyarakat yang mewakili sopan.
“Ah, itu hal biasa, selagi kita semua masih berakal sehat, tentu akan banyak ide kita yang terkemuka. Nah, kini apa yang kalian ingini?” tanggap Walikota sabar.
“Kali ini kami ingin membicarakan masalah jadwal kokok ayam, Pak Wali.” Sambut wakil massa.
“Baiklah seperti tempo hari, mari kita bicarakan di ruang rapat.”
Dialog antara Walikota dan wakil-wakil massa demonstrasi di ruang rapat berjalan dengan penyampaian keinginan-keinginan masyarakat bawah, tentang jadwal kokok ayam. Walikota mendengarkan semua usulan dengan seksama dan sesekali menimpali. Kesimpulan rapat adalah Walikota bersedia mengubah jadwal kokok ayam masyarakat kelas bawah. Keputusannya Kokok pertama pada dini hari diperuntukkan bagai kalangan kelas bawah, kokok kedua bagi golongan karyawan, dan kokok ketiga bagi golongan pemimpin dan eksekutif. Semua menerima hasil putusan tersebut. Maka sejak itu, ayam-ayam dilatih khusus sesuai tugas mereka yang baru.
Perubahan pola hidup besar-besaran terjadi dalam masyarakat KKN. Ayam-ayam yang berjasa jadi terkenal sebagai maskot KKN. Masyarakat KKN bangga sekali akan ayam-ayam mereka. Setiap hari ayam mereka mewarnai kota dengan kokoknya yang sangat teratur. Namun kebanggaan tersebut menjadi sedikit terganggu takkala terlihat ada beberapa ayam di jalanan yang terlihat sedikit agak lain dari biasa, baik tingkah laku maupun pada fisik mereka. Beberapa ekor ayam di KKN terlihat berwajah pucat, mata mereka kuning kemerah-merahan. Jalannya pun sempoyongan, seperti orang kurang darah. Kadang kala terlihat kurang nafsu makan.
Kabar tersebut terdengar oleh Walikota. Tim Pencari Fakta segera dibentuk. Dari hasil penelitian, data lapangan menunjukkan ayam-ayam yang terkena gejala aneh tersebut adalah ayam peliharaan masyarakat golongan bawah. Gejala-gejala yang ditemui pada ayam masyarakat golongan bawah itu adalah wajah pucat, mata kuning kemerah-merahan, tubuh lemas kadang kala tidak kuat untuk berdiri, sesekali terdengar seperti suara ngorok di bagian kerongkongan, juga disertai suara seperti halnya bersin pada manusia, kadang seperti disertai suara batuk. Menurut ahli hewan KKN ayam-ayam itu terkena gejala flu ayam yang merupakan penyakit baru di bidang peternakan. Sebagai akibat dari perubahan pola hidup ayam-ayam. Ternyata ayam-ayam masyarakat kelas bawah -yang merupakan ayam-ayam impor- kurang begitu tahan terhadap terpaan angin malam. Padahal ayam-ayam itu harus melaksanakan tugasnya saat dini hari.
Pagi menjelang di Kota Kerja Nyata, namun tak terlihat kesibukan seperti bisanya di kota tersebut. Jalan-jalan lengang. Kantor-kantor masih terlihat tutup.Tak ada suara yang bisa tertangkap telinga selain gemerisik pepohonan. Padahal, biasanya di kota ini, jam-jam seperti ini sudah sibuk dengan berbagai aktivitas masyarakatnya, mulai dari lumpur sawah hingga di lantai bertingkat gedung perkantoran. Kota Kerja Nyata nampak seperti kota mati. Di sudut kota terdengar dentuman mahadahsayat. Sebuah gedung perusahaan swasta milik infestor asing hancur berkeping menjadi puing oleh sebuah ledakan. Bunyi tersebutlah di pagi ini yang pertama menandai adanya kehidupan di KKN. Orang-orang terbangun. Semua merasa bingung dan seperti mengalami sebuah mimpi yang menyeramkan. Hal yang asing rasanya tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Pagi-pagi bukan kokok ayam yang mereka dengarkan malah sebuah dentuman yang mengerikan, disertai kobaran api, puing-puing serta ceceran darah di mana-mana. Ke mana ayam-ayam mereka?
Tatkala semua telah sadar dari pengaruh tidur yang terlalu lelap, mata mereka baru dapat menyaksikan betapa ayam-ayam yang berjasa dan merupakan maskot kebaganggaan kota mereka telah bergelimpangan, di jalanan, bertumpuk di sangkar tanpa napas, dan di tempat-tempat lain tak menentu. Ayam yang berjasa dalam satu malam telah punah dari Kota Kerja Nyata akibat wabah ganas flu ayam.
Menyedihkan kini jangan mengharap dapat mendengar kokok ayam seperti dulu di KKN. Lebih menyedihkan, kini setiap pagi di Kota Kerja Nyata masyarakatnya sudah terbiasa dibangunkan oleh dentuman bom yang meruntuhkan gedung. Atau, rentetan senjata yang disertai teriakan orang terkapar dan bersimbah darah. Buruknya mereka tak tahu bagaimana muasal kejadian sebenarnya, mengapa pagi di KKN sekarang berganti dengan dentuman bom? Babak baru bagi KKN tentunya.(®NAN) Batumarta, 11 Maret 2006
Oleh Adnan Wiliansah
(Diterbitkan di Harian Babel Pos Minggu, 1 Juni 2008
Kamis, 19 Maret 2009
PUISI
INSPIRASI SOSIA
Oleh Adnan Wiliansah
Indonesia!
Merasuklah kau ke dalam dadaku
Berikut suka duka mu
Indonesia!
Merasuklah kau ke dalam dadaku
Meski dengan mangu-mangu
Walau Sidoarjo jadi leganda danau lapindo
Dalam gagapnya merangkak di meja hijau.
Indonesia!
Merasuklah kau ke dalam dadaku
Tak perlu ragu
Tak usah malu-malu
Sebab kutahu ratapmu dipuing aceh
Kita berjibaku menata kehancuran
Menyungkurlah kepala, sadar keangkuhan
Lantas,
Sadarkah kita?
Tuhan memilih kita karena yakin
Kita adalah tangan-tangan Tuhan
Jika berkehendak baik
Maka baiklah kehidupan
Namun, sadarkah kita
Tangan ini pula yang memancing angkara
Ayo, bung rebut kembali
Kita rebut kembali kesadaran diri
Menata bangunan negeri pertiwi yang terserak
Yang porak-poranda oleh badai keserakahan
Oleh hati yang durjana
Oleh kutukan bertahun-tahun pada anak-cucu ibu pertiwi
Bergegap gembitalah dalam berpikir positif
Menyapa terbitnya pajar keyakinan baru.
Lokalitbang,
28 Februari 2009
